Dianggap Manipulasi Data Positif Covid-19, Begini Respon Kadinkes Provinsi Sulsel

-

Makassar, Eksplor – Pendataan kasus covid-19 di Sulsel seringkali timpang tindih. Data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat berbeda dengan data hasil pemeriksaan laboratorium.

Pakar Kesehatan, Universitas Hasanuddin, Idrus Paturusi membongkar bobroknya pendataan tersebut. Ia menduga ada pengecilan angka yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Sepertinya begitu (pengecilan angka) makanya saya minta untuk ada penjelasan perihal perbedaan itu,” kata Idrus Paturusi, Selasa (6/7/2021) malam dilansir dari TribunNews

Menanggapi Perbedaan data Covid-19 di Sulawesi Selatan dengan hasil tes di laboratorium. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Ichsan Mustari menjelaskan alasan data pasien positif Covid-19 di Sulawesi Selatan dengan tes di laboratorium sering kali timpang.

Menurut Ichsan, hal ini karena hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan lab dilakukan dua kali jika dinyatakan positif. Pemeriksaan dilakukan pada saat pertama kali bergejala, kemudian positif dan pemeriksaan kontrol.

Pemeriksaan kontrol dilakukan pada hari ke 10 dan 14 untuk mengetahui pasien yang positif, apakah sudah sembuh atau belum. Hasil ini juga dihitung masuk ke dalam angka positif tersebut.

Ichsan menjelaskan bahwa data yang beredar menunjukkan data gabungan antara pemeriksaan pertama dan kontrol. Selama ini Pemprov Sulsel cuma melaporkan data pemeriksaan pertama sebagai kasus positif.

Dia mencontohkan saat seseorang masuk ke rumah sakit dan hasil pemeriksaannya positif COVID-19. Itu dihitung sebagai hasil pemeriksaan pertama. Seiring waktu, dalam 10-14 hari, pasien yang sama menjalani tes kontrol hingga dua kali, dan pemeriksaannya turut masuk dalam data laboratorium.

“Yang kita ambil data sebagai orang positif kan dari data pertama,” katanya. “Jadi memang (seperti) lebih banyak, tapi cuma satu (orang).

Lebih lanjut, Ichsan mengingatkan masyarakat agar menjauhkan kesan pemerintah menyunat atau mengurangi data. “Karena saya juga pikir tidak ada manfaatnya,” kata dia.

Ichsan mengimbau semua pihak agar saling bahu membahu dalam penanganan COVID-19. Terutama penerapan protokol kesehatan. “Ini bukan urusan pemerintah saja. tapi urusan kita semua.” (*)

Populer

spot_img